Minggu, 09 Agustus 2009

Bom waktu itu bernama e-waste

Penemuan mesin uap di tahun 1789 telah menjadi titik tolak bagi perkembangan arus teknologi di dunia. Berbagai rentetan penemuan lahir sejak saat itu. Kapal laut, kereta api hingga sinar x, meretas sekaligus mendorong penciptaan-penciptaan berikutnya pada bidang teknologi hingga saat ini.

Tidak dapat di pungkiri bahwa, terjadi nya perubahan besar pada ranah teknologi telah membantu umat manusia dalam memudahkan semua aktifitas nya di segala bidang. Kehidupan kini semakin mudah, pun dunia seolah semakin kecil.

Permasalahan waktu serta jarak dinilai bukan lagi sebagai halangan berarti. Liar nya belantara hutan dengan mudah dapat di taklukan dengan mesin-mesin besar berkemampuan luar biasa.

Pergi ke belahan bumi bagian barat tak lagi berminggu-minggu, dengan pesawat cukup-lah hitungan hari. Pembukaan hutan, tak perlu mengorbankan nyawa banyak pekerja, cukup satu orang mengoperasikan sebuah alat besar, ratusan pohon tumbang dengan cepat.

Perbincangan masalah bisnis hingga hubungan jarak jauh pasangan kekasih kini semakin dekat sejak teknologi komunikasi semakin maju. Bahkan peristiwa yang terjadi nun jauh di berbagai dunia dapat diketahui dari rumah kita sendiri.

Sungguh hal yang sangat luar biasa. Bahkan James Watt pun, mungkin tidak akan mempercayai bahwa penemuannya itu telah menjadi sumbu ledakan terdahsyat dalam kemajuan teknologi sekarang ini.

Bak kartu domino yang di urutkan berdiri memanjang. Jika salah satu ujung nya di jatuhkan maka, akan menimpa kartu yang berada di depan nya begitu pun selanjutnya hingga tak ada kartu yang tersisa.

Seperti itulah yang terjadi terhadap perkembangan teknologi, berawal dari satu hal melahirkan banyak hal. Mulai dari benda sederhana hingga benda-benda berteknologi rumit. Memudah kan kehidupan meringankan pekerjaan.

Namun, dari serangkaian efek tersebut tanpa disadari juga memberikan efek buruk terhadap keberlangsungan kehidupan bumi serta isinya.

Dari sekian banyak dampak negatif dari kemajuan teknologi, sampah elektronik lah e-waste : electronic waste) yang kini menjadi sorotan.

Hey, tunggu sebentar. Kenapa harus e-waste yang dibahas? Bukankah dampak terjadinya revolusi teknologi yang paling buruk adalah penebangan hutan, energi nuklir, ekploitasi barang tambang, polusi dan yang paling parah adalah tergesernya manusia dari pekerjaannya pada bidang industri.

Benar adanya, apa yang tertulis pada paragraf diatas. Tapi, coba lah melihat di sekitar kita. Berapa banyak jumlah penggunaan barang elektronik di masyarakat dan kemudian berakhir begitu saja. Semakin bertumpuk setiap harinya. Dan itu ada di dekat kita.

Lalu apa itu e-waste atau sampah elektronik? E-waste merupakan limbah yang berasal dari barang-barang elektronika baik yang sudah rusak atau pun sudah tidak dipergunakan kembali. Perlu di ketahui bahwa komponen-komponen dari produk elektronik tersebut mengandung bahan beracun berbahaya (B3).

Setiap tahunnya 20-50 juta ton limbah elektronik di hasilkan. Pembuangan nya pun tidak melalui proses yang cukup baik. Dengan jumlah yang sungguh luar biasa tersebut serta kandungan B3 di dalamnya, jika terakumulasi maka lambat laun akan masuk kedalam tubuh mahluk hidup.

Sepintas dapat dilihat bahwa limbah elektronik saat ini belum menjadi suatu hal yang membahayakan bagi dunia. Di Indonesia sendiri penelitian mengenai efek buruk dari limbah tersebut belum lah ada.

Mungkin kita tak pernah membayangkan, semua peralatan elektronik yang saat ini dimiliki akan menjadi ancaman bagi diri sendiri.

Namun, dari sekian banyak jumlah peralatan elektronik di rumah kita, telepon genggam lah yang perlu di waspadai. Teknologi yang tergolong semi konduktor ini, memang terlihat sangat tidak membahayakan karena fungsi serta bentuk nya yang menarik.

Tidak hanya efek radiasi dari pancaran sinyal radio saja yang di sebabkan oleh telepon selular, namun juga material-material timbal (lead), tembaga, logam mercury, serta plastik yang terdapat pada hp , sangat lah berbahaya.

Walaupun kandungan B3 di dalam satu unit telepon genggam jumlah nya sedikit, tetapi dengan produk handphone yang mencapai angka 3 miliar di dunia pada tahun 2008, kita bisa menebak berapa besar pula jumlah zat berbahaya nya.

Sedang kan untuk Negara kita sendiri pengguna telepon selular mencapai angka 7,4 juta pada April 2007, dan sebagian besar nya terdapat di wilayah Jabodetabek. Belum lagi dengan gaya hidup masyarakat yang saat ini memandang hand phone layak nya sebuah trend fashion yang harus di ganti kala munculnya produk terbaru.

Usia telepon genggam yang dapat mencapai 8 tahun kini dengan paradigma tersebut hanya mungkin digunakan selama 1 hingga 2 tahun. Ketika tidak di gunakan akan kita jual.

Lalu apakah kita akan merasa tidak melakukan hal yang merusak lingkungan? Jika anda berfikiran seperti itu, maka selamat anda telah mengorbankan generasi berikutnya yang di dalam nya terdapat anak, adik, serta anggota keluarga anda yang terbilang berusia muda.

Kok bisa? Coba bayangkan jika di wilayah rukun tetangga (RT) anda, per rumah nya memiliki 2 buah hand phone kemudian kalikan dengan banyaknya rumah yang berada di wilayah tersebut berapa jumlah nya. Lalu akumulasikan dengan jumlah pemilik “benda ajaib” itu dari RT yang lainnya.

Kita mungkin menganggap saat ini bahaya limbah elektronik tidak terlalu mengancam keberlangsungan kehidupan, namun dampak buruk dari limbah elektronik terus mengintai kita hingga tiba saat nya maka sekejap semua akan menjadi korban.

Sebuah bom waktu yang entah disadari atau tidak telah kita ciptakan sendiri – dari sebuah benda sederhana bernama hand phone – untuk masa depan generasi berikutnya.

Inilah efek buruk dari deretan kartu domino yang salah satu ujungnya telah di jatuh kan oleh James Watt, dan terus berlangsung hingga tiada kartu yang tersisa. Lalu apakah kita menambahkan deretan panjang kartu domino hanya untuk menambah efek buruk nya saja? Tanpa memberikan kontribusi positif seperti para pendahulu kita bagi kehidupan?

Keberlangsungan dari seluruh isi bumi ini bukan di tangan pemerintah, Negara-negara maju, LSM, PBB, namun kita sendiri. You Rule!!!

Berikut merupakan zat-zat berbahaya yang berada di dalam e-waste :

Timah

suatu racun syaraf, juga membahayakan ginjal dan sistem reproduksi. Bahkan paparan timah kadar rendah sekalipun dapat merusak perkembangan mental anak.

PVC

jika dibakar jadi abu menghasilkan dioksin yang sangat beracun

Bromin menyebabkan kerusakan tiroid & mengganggu perkembangan janin

Barium

menyebabkan gangguan lambung dan usus, kelemahan otot, kesulitan bernapas, kenaikan ataupun penurunan tekanan darah

Kromium

menghirup bentuk heksavalen dari kromium dapat merusak hati dan ginjal, meningkatkan resiko kanker paru-paru, serta mneyebabkan bronkitis asma

Merkuri

merusak otak dan ginjal, berbahaya bagi perkembangan janin dan bisa berpindah melalui air susu ibu

Berilium

merupakan karsinogen dan debunya dapat menyebabkan penyakit paru-paru
Kadmium

paparan jangka panjang dari karsinogen ini dapat merusak ginjal dan tulang

(Sumber : http://artukat.com/umum/e-waste)

Kutipan : klik hyperlink nya

5 komentar:

belajar blog mengatakan...

wah si abang...
hati2 tuh bang...
ada bahan2 bom
ntar dikira tukang rakit loh
hehehe

berita unik mengatakan...

keduax...
saya baru tau kalo timah tuh berbahaya
nice posting mas

Senjakala Hati mengatakan...

@ Belajar Blog : Justru yang menjadi bom terdahsyat saat ini adalah perubahan iklim. karena tinggal menunggu waktu...
hehehe...
@ berita unik : selamat menjadi yang keduax...hehehe...salam kenal...

Irfan "melodic" Nugroho mengatakan...

Baru tau kalo segitu berbahayanya barang-barang yang selama ini kita anggap aman "dikonsumsi."

What a good job and keep up the good works!

Best regards,

Irfan Melodic Nugroho
Melodramatic Mind

Facts on the Recent News

Senjakala Hati mengatakan...

@ irfan "melodic" nugroho : hehehe...nah klo udah tau berarti harus ada implementasi nya...
hehehe

Posting Komentar

Tukeran Link

Senjakala Hati

Award Friendship Diary Osi

Thanks To Diary Osi